Sabtu, 27 Desember 2025

KUPU-KUPU SEMU

 

Ini adalah kisah seekor ulat kecil di dalam keluarga yang tampak cemara. Keluarga yang sering dipuji, sering dijadikan contoh, dan selalu terlihat baik-baik saja di mata banyak makhluk hutan. Sayangnya, tidak semua cerita bisa dilihat dari luar.Panggil saja ulat kecil itu Facha.

Sejak ia sangat kecil, Facha sudah terbiasa menjalani “terapi” yang baginya terasa menyakitkan yakni dibandingkan. Dibandingkan dengan saudari-saudarinya yang katanya nyaris sempurna. Mereka besar, berkilau, cerdas, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Sedangkan Facha?

Ia hanya seekor ulat kecil. Tubuhnya pendek, pikirannya sering tersesat, dan kisah hidupnya seperti daun berlubang tidak pernah utuh. Kata banyak orang, menjadi adik itu menyenangkan. Nyatanya, bagi Facha, menjadi adik berarti harus memenuhi harapan yang bahkan kakak-kakaknya tidak sanggup capai. Ia diminta menjadi lebih, tanpa pernah diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Ia mencoba.

Benar-benar mencoba.

Ia merayap lebih cepat, belajar lebih lama, menelan daun yang pahit dengan harapan suatu hari ia akan cukup. Namun setiap usaha selalu berakhir sama: gagal. Bukan karena ia malas, tetapi karena ia tidak bisa menjadi seperti yang mereka inginkan.

Pertanyaan-pertanyaan pun datang tanpa henti.

“Kenapa kamu tidak bisa seperti mereka?”

“Kurang apa lagi usahamu?”

“Harusnya kamu bisa lebih baik.”

Benturan demi benturan menghantam tubuh kecilnya.

Hingga suatu hari, Facha berhenti merayap.

Ia berdiam diri di sebuah pohon tua, pohon yang jarang didatangi siapa pun. Di sana, angin berbicara pelan dan daun-daun tidak pernah bertanya. Untuk pertama kalinya, Facha merasa tidak perlu menjelaskan apa pun. Di pohon itu, ia bertemu seekor kupu-kupu. Sayapnya indah, warnanya cerah, dan wajahnya selalu tampak bahagia.

“Kau tahu,” kata kupu-kupu itu lembut,

“aku dulu sepertimu. Bertapa saja. Berdiam. Nanti kau akan menemukan kebahagiaan sepertiku.”

Facha percaya.

Ia pun bertapa. Mengurung diri, menjadi larva, berlama-lama dalam sunyi. Ia berharap ada keajaiban. Ia berharap semua luka akan terbayar. Ia berharap suatu hari bangun dengan sayap yang membuat semua orang berhenti membandingkan.

Waktu berlalu.

Entah berapa lama.


Lalu, suatu hari, muncullah seutas cahaya. Hangat. Lembut. Seperti ingin menariknya pulang.

Hati Facha bergetar.

“Inikah kebahagiaanku?” pikirnya.

“Inikah jawaban dari semua doaku?”

Ia berlari menuju cahaya itu. Dengan sisa tenaga, dengan harapan terakhir. Ia siap mengepakkan sayapnya sayap yang baru saja ia miliki.

Namun cahaya itu menjauh.

Perlahan, lalu semakin jauh.

Langit mendadak gelap.

Hujan turun tanpa kendali.


    Sayap yang baru ia kepakkan menjadi lusuh, basah, dan berat. Air hujan menamparnya tanpa ampun. Facha jatuh, bukan karena ia tidak bisa terbang, tetapi karena ia terlalu percaya bahwa cahaya itu akan menunggunya.

Di bawah hujan deras, Facha meringkuk. Bukan sebagai ulat.  Bukan pula sebagai kupu-kupu.

Hanya sebagai makhluk kecil yang lelah berharap.Dan di sanalah ia menyadari:

tidak semua cahaya datang untuk menyelamatkan,

dan tidak semua kupu-kupu benar-benar bahagia.

@Zahro_Ra  27/12/2025

KUPU-KUPU SEMU

  Ini adalah kisah seekor ulat kecil di dalam keluarga yang tampak cemara. Keluarga yang sering dipuji, sering dijadikan contoh, dan selalu ...