Ini adalah kisah seekor ulat kecil
di dalam keluarga yang tampak cemara. Keluarga yang sering dipuji, sering
dijadikan contoh, dan selalu terlihat baik-baik saja di mata banyak makhluk
hutan. Sayangnya, tidak semua cerita bisa dilihat dari luar.Panggil saja ulat
kecil itu Facha.
Sejak ia sangat kecil, Facha sudah
terbiasa menjalani “terapi” yang baginya terasa menyakitkan yakni dibandingkan.
Dibandingkan dengan saudari-saudarinya yang katanya nyaris sempurna. Mereka
besar, berkilau, cerdas, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Sedangkan Facha?
Ia hanya seekor ulat kecil. Tubuhnya
pendek, pikirannya sering tersesat, dan kisah hidupnya seperti daun berlubang tidak
pernah utuh. Kata banyak orang, menjadi adik itu menyenangkan. Nyatanya, bagi
Facha, menjadi adik berarti harus memenuhi harapan yang bahkan kakak-kakaknya
tidak sanggup capai. Ia diminta menjadi lebih, tanpa pernah diberi ruang untuk
menjadi dirinya sendiri.
Ia
mencoba.
Benar-benar
mencoba.
Ia merayap lebih cepat, belajar
lebih lama, menelan daun yang pahit dengan harapan suatu hari ia akan cukup.
Namun setiap usaha selalu berakhir sama: gagal. Bukan karena ia malas, tetapi
karena ia tidak bisa menjadi seperti yang mereka inginkan.
Pertanyaan-pertanyaan
pun datang tanpa henti.
“Kenapa
kamu tidak bisa seperti mereka?”
“Kurang
apa lagi usahamu?”
“Harusnya
kamu bisa lebih baik.”
Benturan
demi benturan menghantam tubuh kecilnya.
Hingga
suatu hari, Facha berhenti merayap.
Ia berdiam diri di sebuah pohon
tua, pohon yang jarang didatangi siapa pun. Di sana, angin berbicara pelan dan
daun-daun tidak pernah bertanya. Untuk pertama kalinya, Facha merasa tidak
perlu menjelaskan apa pun. Di pohon itu, ia bertemu seekor kupu-kupu. Sayapnya
indah, warnanya cerah, dan wajahnya selalu tampak bahagia.
“Kau
tahu,” kata kupu-kupu itu lembut,
“aku
dulu sepertimu. Bertapa saja. Berdiam. Nanti kau akan menemukan kebahagiaan
sepertiku.”
Facha
percaya.
Ia pun bertapa. Mengurung diri,
menjadi larva, berlama-lama dalam sunyi. Ia berharap ada keajaiban. Ia berharap
semua luka akan terbayar. Ia berharap suatu hari bangun dengan sayap yang
membuat semua orang berhenti membandingkan.
Waktu
berlalu.
Entah
berapa lama.
Lalu, suatu hari, muncullah seutas cahaya. Hangat. Lembut. Seperti ingin menariknya pulang.
Hati
Facha bergetar.
“Inikah
kebahagiaanku?” pikirnya.
“Inikah
jawaban dari semua doaku?”
Ia berlari menuju cahaya itu. Dengan
sisa tenaga, dengan harapan terakhir. Ia siap mengepakkan sayapnya sayap yang
baru saja ia miliki.
Namun
cahaya itu menjauh.
Perlahan, lalu semakin jauh.
Langit
mendadak gelap.
Hujan turun tanpa kendali.
Sayap yang baru ia kepakkan menjadi lusuh, basah, dan berat. Air hujan menamparnya tanpa ampun. Facha jatuh, bukan karena ia tidak bisa terbang, tetapi karena ia terlalu percaya bahwa cahaya itu akan menunggunya.
Di
bawah hujan deras, Facha meringkuk. Bukan sebagai ulat. Bukan pula sebagai kupu-kupu.
Hanya
sebagai makhluk kecil yang lelah berharap.Dan di sanalah ia menyadari:
tidak semua cahaya datang untuk
menyelamatkan,
dan tidak semua kupu-kupu
benar-benar bahagia.
@Zahro_Ra 27/12/2025
